Rabu, 19 Februari 2025
Kasihruang.com – Internasional Pernyataan mengejutkan datang dari Donald Trump mengenai bantuan militer besar-besaran Amerika Serikat kepada Ukraina. Selama ini, Amerika Serikat bersama dengan aliansi militernya, NATO, telah menjadi penyokong utama Ukraina dalam perang melawan Rusia. Namun, Trump mengungkapkan bahwa bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat ternyata tidak “gratis” bagi Ukraina.
Menurut informasi yang berkembang, Amerika Serikat kini meminta akses ke cadangan mineral penting yang ada di Ukraina sebagai imbalan atas seluruh bantuan militer yang telah diberikan selama ini. Tuntutan ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Dalam sebuah pernyataan, Zelensky menyatakan bahwa kesepakatan yang diajukan oleh Menteri Keuangan AS tidak cukup untuk menjamin keamanan dan keselamatan yang dibutuhkan oleh Ukraina. Ia menegaskan, kesepakatan yang dapat diterima hanya bisa tercapai jika Ukraina diberikan jaminan keamanan militer yang lebih kuat dari Amerika Serikat.
Sumber daya mineral Ukraina, seperti titanium, uranium, litium, dan berbagai jenis tanah jarang, telah lama menjadi bahan baku penting bagi industri global. Sebuah laporan dari Reuters mengungkapkan bahwa Amerika Serikat berniat untuk menguasai 50% sumber daya mineral di Ukraina. Dalam laporan tersebut, Menteri Keuangan AS memberikan waktu hanya satu jam kepada Presiden Zelensky untuk mempertimbangkan kesepakatan yang akan memberikan akses tak terbatas bagi AS terhadap sumber daya mineral Ukraina.

Zelensky dikabarkan sangat kecewa dengan langkah ini, mengingat ia berharap bahwa kedatangan Menteri Keuangan AS justru untuk membahas penguatan bantuan militer dan keuangan untuk Ukraina. Namun, sebaliknya, Amerika Serikat justru ingin menguasai kekayaan alam Ukraina pada saat yang sangat kritis ini. Setelah mempertimbangkan hal tersebut, Zelensky memilih untuk menunda keputusan lebih lanjut hingga konferensi keamanan Munich.
Paksaan yang diberikan oleh Amerika Serikat terhadap Ukraina ini bukan sekadar soal strategi ekonomi, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang lebih besar, yakni untuk memperkuat posisi Amerika Serikat dalam menghadapi hegemoni Tiongkok. Bagi Ukraina, ini adalah dilema besar. Posisi Ukraina dalam percaturan geopolitik global kini semakin sulit, terutama dengan adanya ancaman kehilangan sumber pembiayaan utama untuk mempertahankan diri dari serangan Rusia.
Konsekuensi dari penolakan Ukraina terhadap kesepakatan ini sangat berat. Ukraina berpotensi kehilangan bantuan terbesar yang menjadi kunci bagi kelangsungan perlawanan mereka terhadap agresi Rusia.*******
Penulis:#Evan Edo Prasetya

