kasihruang.com-Bogor, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, meninjau langsung kondisi retakan di Jalan Saleh Danasasmita yang sebelumnya telah diperbaiki oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Bogor.
Meski perbaikan telah dilakukan, jalan tersebut hingga kini belum dapat dilalui kendaraan. Hal ini karena masih menunggu rekomendasi teknis serta penanganan longsor dari Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Bandung, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), sebagai pihak yang memiliki kewenangan.
Dedie Rachim menginstruksikan DPUPR Kota Bogor untuk memprioritaskan percepatan perbaikan jalan akses alternatif lainnya guna mendukung mobilitas masyarakat.
“Jadi kita harus segera mengambil langkah teknis dan membuka akses jalan alternatif bagi masyarakat agar lalu lintas kembali lancar, sehingga aktivitas sosial, ekonomi, dan lainnya bisa berjalan normal,” ujar Dedie Rachim, Minggu (1/2/2026).
Terkait pembangunan trase jalan baru yang lahannya telah dibebaskan oleh Pemerintah Kota Bogor, saat ini prosesnya masih menunggu tahapan lelang di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Sebagaimana disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, anggaran sebesar Rp22,5 miliar telah dialokasikan untuk pembangunan jalan tersebut. Namun, pelaksanaannya masih menunggu proses lelang karena harus melalui tahapan administrasi sesuai sistem tata kelola keuangan di Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dedie Rachim juga meminta DPUPR Kota Bogor untuk terus menjalin koordinasi dengan Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat, guna memastikan dukungan dan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor.
“Sambil terus berkoordinasi dan menunggu proses tersebut, saya instruksikan kepada Kepala Dinas PUPR untuk memperbaiki dan menyiapkan akses jalan alternatif,” katanya.
Secara teknis, Jalan Saleh Danasasmita sudah tidak memungkinkan lagi digunakan sebagai akses kendaraan, karena hasil kajian geologi menunjukkan adanya sumber mata air aktif di bawah struktur jalan.
Namun, dalam kondisi darurat demi memenuhi kebutuhan akses masyarakat, jalan tersebut sempat dibuka sementara untuk kendaraan roda dua. Pembukaan dilakukan setelah adanya perbaikan tebing, pembuatan sodetan atau saluran air, serta pemasangan bronjong oleh BTP Kelas I Bandung.
Setelah dibuka kembali, longsor kembali terjadi pada tebing di sisi jalan, yang mengakibatkan retaknya aspal. Akibatnya, akses jalan tersebut kembali ditutup.
“Porsi perbaikan jalan yang menjadi kewenangan kami sudah dilaksanakan. Namun, di bagian bawah masih terjadi pergerakan tanah akibat mata air aktif, ditambah curah hujan tinggi yang mendorong kondisi tanah yang sejak awal sudah labil. Oleh karena itu, kita siapkan akses alternatif sambil memproses pembangunan trase baru,” ujar Dedie Rachim.
Source : Pemkot Bogor

